Deskripsi Diri

Khairil Anwar, SE, M.Si lahir di Paya Naden pada 20 April 1978 dari pasangan Tengku Umar bin Abu Bakar dan Fatimah binti Muhammad. Gelar Sarjana di peroleh dari Unsyiah Banda Aceh, sementara gelar Magister di peroleh dari SPs-USU Medan. Sejak tahun 2002 sampai saat ini bekerja sebagai dosen pada Prodi IESP Fakultas Ekonomi Universitas Malikussaleh. Menikah dengan Riza Izwarni dan telah dikarunia dua orang anak; Muhammad Pavel Askari dan Aisha Naury.

Jumat, 30 Maret 2012

Mengenal Irwandi Yusuf lebih dekat

Irwandi dan Buah Berkulit Tikar

Sabtu, 26 Nopember 2011 WIT
Ini kisah tentang masa kecil seorang anak bernama Irwandi Yusuf. Irwandi kecil adalah seorang anak yang ingin tahu segala hal. Ketika anak seusianya membuat mobil mainan berbentuk truk atau bus, Irwandi malah membuat tank perang. Ia juga menjadikan batang pisang di belakang rumahnya sebagai 'partner' latihan karate.


TERLETAK di sebuah tikungan kawasan Bireuen, gampong –kampung-- itu berhadap-hadapan dengan rawa bernama Paya Kareung. Bila berjalan dari arah Banda Aceh menuju Medan, setelah melewati kota Bireuen, maka perkampungan ada di sebelah kiri, paya –rawa-- ada di kanan jalan. Terbentengi bantaran Irigasi, inilah gerbang Gampong Sagoe.

Di situlah bermukim seorang guru agama yang juga guru ngaji, bernama Muhammad Yusuf, bersama istrinya, Nafsiah Puteh. Pengantin yang baru setahun berkeluarga, tentu merindukan buah hati. Masa itu tiba pada pukul 12.00 WIB, 2 Agustus 1960, Yusuf duduk gelisah di ruang tamu rumahnya di Gampong Sagoe itu.

Maklum, isterinya, Nafsiah, yang sedang hamil tua sedang berjuang bersama dukun beranak, Fatimah, di dalam kamar sayap kanan rumahnya. Ini sebuah proses persalinan yang biasa di masa itu, tetapi Yusuf cemas sebab sedang menanti kelahiran anak pertamanya.

Begitu mendengar tangisan bayi, Yusuf reflek terbangun dari duduknya. Lalu buru-buru menuju kamar. “Ka lahee aneuek agam,” kata sang istri, Nafsiah, kepadanya. Sang suami mengangguk tersenyum. Ini adalah putra pertama mereka. “Lon boeh nan Irwan. (Saya beri nama: Irwan),” kata Nafsiah.

Oleh Zainal Abidin –Nek Teungku--, ayah kandung Yusuf, menambahkan 'Di' di belakang nama Irwan. Jadilah Irwandi, lalu satu suku kata lagi yaitu Yusuf adalah penggalan nama belakang ayahnya, Muhammad Yusuf. Jadilah Irwandi Yusuf. Kelahiran Irwandi hanya disambut khanduri kecil-kecilan. Maklum desa yang penuh hutan belukar itu masih sepi, baru ada 30 rumah tanpa penerangan listrik.

Irwandi tumbuh bersama bocah-bocah kecil lainnya di Gampong Sagoe dengan ciri khas rambut tegak lurus. Kata orang kampung, “balon beureutoh meunyoe keuneung ok gobnyan (balon meletus jika kena rambutnya).” Di usia lima tahun, dia sudah mahir membaca Al-Quran. Gurunya tak lain adalah kakeknya, Zainal Abidin yang akrab disapa Teungku Gampong, kadang-kadang dia belajar pada ayahnya, Yusuf. Sesekali yang bertindak menjadi guru adalah Nafsiah, ibunya.

Sering, Nafsiah kerepotan dengan pertanyaan putra sulungnya saat belajar itu. Termasuk tentang kelahiran adik-adiknya. “Adek bayi nyoe ata dipeutroen dari kapai (adik-adik diturunkan dari pesawat),” kata Nafsiah. Mendengar penjelasan ibunya, Irwandi hanya tersenyum saja.

Akhirnya, Nafsiah menyadari sifat Irwandi yang selalu penuh pertanyaan itu. “Jih meunan droe. Miseu lagee tapeureuno beut, keun ka ta kheun sigoe trok bah  jih meuphom, watee ta kheuen sigoe treuek nyan langsong jikheuen 'pu neukheun sabe- sabe? ' Peue syit yang lon pike meuseu neukheun sabe-sabe (Dia –sifatnya-- memang begitu. Misalnya ketika kita mengajarkannya membaca Al-Quran, kita akan membaca satu kali lagi agar dia memahaminya, waktu kita baca lagi langsung saja dia katakan kenapa membaca berkali-kali? Kalau Ibu membaca berkali-kali lalu apa yang harus saya fikirkan lagi),” kata Nafsiah.

Tempat pengajian ini memang berada di rumah keluarga besar Irwandi. Semua anak-anak di kampung itu belajar mengaji di sini, maklum Nek Imum adalah seseorang yang sangat dihormati di sini. Keluarga Irwandi dikenal sebagai keluarga terpandang di desanya. Selain seorang imam, Nek Teungku --kadang juga disapa Teungku Denon--, sang kakek, sebelum kemerdekaan adalah wakil/orang kepercayaan Ampon Chiek Peusangan untuk kawasan Gampong Sagoe dan sekitarnya.  Adapun Yusuf, ayah Irwandi, selain seorang guru agama di Madrasah Ifitaiyah Negeri (MIN) Cot Bada, Peusangan, dia adalah Geuchik Gampong Sagoe.

****

Bagi Irwandi, semua yang dilihat dan belum dimengertinya selalu menjadi pertanyaan. Suatu kali, dia penasaran dengan sejenis buah-buahan yang membuatnya sampai menelan ludah. Glek. Keinginannya makin menggoda manakala melihat tetangga membawa pulang buah berkulit tikar itu.

Tak tahan, Irwandi pun merengek pada ibunya untuk membeli.

“Mak, neublo boh kaye nyan that hawaku, lagee tika kulet boh kaye nyan (Mamak, belikan aku buah-bauhan, aku sangat menginginkannya, buah-buahan itu kulitnya mirip tikar),” katanya. Tentu saja Nafsiah bingung. “Kiban boh kayee lagee tika (bagaimana buah-buahan yang mirip dengan tikar itu)?” dia bertanya.

Melihat ibunya kebingungan, Irwandi pun berlari-lari kecil ke rumah tetangganya, dia mencari di tempat sampah. Setelah menemukan kulit buah-buahan yang mirip tikar itu, Irwandi memberikan pada ibunya sambil berkata, “nyoe, kulet boh kayee nyang lagee tika nyan.”

Sembari tersenyum, Nafsiah berkata: “oh nyan boh meuria, hana mangat hai nyak, nyan rasajih klat (Oh itu, buah rumbia –salak Aceh--, nggak enak rasanya kecut)”. Kendati demikian Nafsiah tetap membelikannya untuk Irwandi, bahkan sekeranjang.

Girang bukan kepalang, Irwandi pun mengupas buah berkulit tikar itu dan melahapnya satu. Dan, apa yang terjadi?  Dia merasakan buah yang sangat kecut, dan kesat. Satu pun tak habis dimakannya. Diam-diam dia meninggalkan sekaranjang buah yang sejatinya sering digunakan buat rujak Aceh. Sejak itu, Irwandi berhenti minta buah rumbia.

Memasuki usia enam tahun, Nek Teungku menginginkan cucunya menjadi seorang terpelajar, begitu juga sang ayah, Yusuf, yang berharap anaknya menjadi orang pintar. Irwandi didaftarkan ke Madrasah Iftidayah Negeri (MIN) Cot Bada, Kecamatan Peusangan, Kabupaten Bireuen. Pada seorang guru di sekolah, Yusuf berpesan agar Irwandi jangan dimasukkan ke dalam kelasnya mengajar. “Leu that ji teumanyoeng (banyak sekali bertanya),” kata Yusuf kepada guru itu.

Sementara, Nek Teungku yang juga akrab disapa Teungku Gampong yang menganggap Irwandi sudah mulai bersentuhan dengan dunia luar, selalu mengingatkan satu hal pada cucunya, “bek jak meurangak bak gob”. Sangking mendalamnya ajaran ‘bek meurangak’ itulah yang membuat Irwandi tak pernah berharap mendapat bantuan siapapun. Jika jam makan siang tiba, dia segera pulang.

Sebab, kalau terlambat tiba di rumah, maka ayah-ibunya ataupun kakeknya akan bertanya, “nyan pat kayak raheung. Pasti kayak raheung bak rumoh gob, cet-cet uroe goh lom ka woe (nah di mana kamu raheung. Pasti pergi raheueng di rumah orang, siang-siang begini belum pulang-pulang?”

Satu kalimat itu sudah cukup membuat Irwandi malu, diapun menunduk tanpa menjawab langsung ke dapur mengambil piring lalu makan siang. Begitu juga ketika di rumah tetangga terdengar buah kelapa jatuh sebab ada yang memanjatnya, langsung kakeknya bilang pada Irwandi “nyan kah bek kameuraheung boh u muda bak rumoh gob (nah kau jangan meuraheueng buah kelapa muda tetangga).

***

Setelah bersekolah, Irwandi mulai banyak teman. Tak ada angkutan, di masa itu mereka sekampung berjalan kaki menuju sekolah yang berjarak satu kilometer dari gampong. Anak-anak tanpa seragam, beraneka macam baju yang dikenakan. Bahkan, di antaranya banyak memakai sendal, ada yang bertelanjang kaki. Setiap hari begitu, mereka pun menjadi akrab dan menjadi teman sepermainan.

Sepulang sekolah, Irwandi mengisi harinya bercengkrama bersama teman-teman kecilnya. Salah satu permainan yang suka mereka mainkan adalah “polisi dan penjahat”. Mereka memakai bedil dari kayu dan pelepah kelapa. Bersama teman-temannya, dia juga memanfaatkan Paya Kareung sebagai tempat berenang sambil main kejar–kejaran. Irwandi suka memancing di sini. Biasanya, dia membawa pulang ikan Petek, Sepat, Gabus, dan Seungkeo (Lele).

Selain itu, Irwandi bersama teman-teman kecilnya itu juga suka bermain mobil-mobilan. Tentu bukan membeli, anak-anak di kampung membuatnya sendiri dari pelepah rumbia. Kesukaan Irwandi berbeda, jika anak-anak lain membuat truk atau bus, dia malah membuat tank perang. Bahkan dibikin dua lalu dirancangnya perang-perangan, biar mirip dibuatnya tembakan dari gelang karet.

Kegemarannya dengan peralatan tentara juga terbawa ke sekolah, saat melukis pun biasanya dia menggambar peralatan militer, jika pun guru menyuruhnya bikin lain maka dilukisnya pemandangan.

****

Irwandi di tengah keluarganya, di kenal tak suka ke sawah. Bahkan Yusuf dan Nafsiah tak bisa menyuruh putranya turun ke sawah, sebab selalu melihatnya bermain. Jika tak bermain, Irwandi sedang asyik membaca buku. Semua buku yang dibacanya berasal dari peti buku milik Yusuf.

Irwandi suka mengacak-acak toeng –peti—itu untuk mencari buku yang hendak dilahapnya. Mulai dari sebuah novel, buku ilmu teknik ringan, serta sejarah seperti sebuah buku yang paling disukainya berjudul “Singa Atjeh” yang bercerita tentang Sultan Iskandar Muda. Dari buku ini dia mendapat gambaran bagaimana Aceh sangat makmur di zaman Pemerintahan Kesultanan Iskandar Muda. Aceh di abad-17 sudah mahsyur sampai ke negeri Cina.

Ayahnya berpesan, buku Singa Atjeh itu jangan sampai rusak. “Nyan buku gob, ata ta pinjam (itu buku orang yang kita pinjam),” katanya. Irwandi diam saja, tetapi tiap hari dibacanya sampai buku itu lecek, ada lembaran-lembaran yang terlepas. “Nyan ka reuleuh lagoe buku, kiban ta pulang lom (nah itu sudah rusak buku orang, bagaimana mau kita kembalikan lagi)?” Buku itupun akhirnya entah bagaimana nasibnya.

Salah satu novel yang dibacanya menceritakan tentang dua anak yatim-piatu. Anak ini sudah ditinggal mati oleh ibunya, dan ayahnya yang adalah Tentara KNIL tewas di Aceh. Dua anak itu hidup di Jakarta bersama ibu tirinya. Setiap hari mereka disuruh mengemis di Matraman, Muara Angke, Pancoran, dan Stasion Kereta Api Gambir, di Jakarta. Uang yang didapat dari hasil mengemis itu dipakai ibunya untuk kebutuhannya memadat candu. Sang ibu tiri pecandu narkoba.

Novel dibaca habis, bahkan sampai-sampai air matanya meleleh.  Rupanya, dia mengandaikan dirinya menjadi si pengemis cilik itu.

Isi novel bisa diceritakannya secara utuh pada teman-teman kecilnya. Bahkan dari sini ini pula Irwandi mampu mendiskripsikan tentang Jakarta seperti dia melihat sendiri ibu kota negara itu. Dari novel ini pula Irwandi tahu detail tentang Kereta Api, lengkap dengan bahaya jika berada dekat rel.

Di masa itu, di Bireuen ada Kereta Api yang melintas di kawasan ini. Irwandi sering was-was jika kereta lewat, “jangan-jangan ada orang di atas rel.” Itulah sebabnya, ibu-ibu di sana sering menggodanya. Tatkala ada kereta api melintas, ibu-ibu langsung berteriak, “ada orang berjalan di atas rel.”

Mendengar jeritan ibu-ibu,  Irwandi yang sedang berada di dalam rumah terperanjat bukan kepalang. Dia pun ikut berteriak, “yu minah, yu minah laju, bek na bak ren (suruh minggir, jangan ada orang di rel bahaya).” Teriakannya terdengar se-antero kampung. Akhirnya membuat para ibu-ibu yang menggodanya tertawa terpingkal-pingkal.

Peti buku itu memang penuh makna bagi Irwandi. Sebab dari situ pula dia mendapat jawaban berbagai hal yang menjadi pertanyaan di benaknya. Misalnya buku Ilmu Falak, dari sini dia bisa mengetahui berbagai hal tentang alam. Di antaranya adalah soal gerhana matahari, gerhana bulan, dan juga bencana alam.

Ini semua menepis sahibul hikayat yang didengarnya, yaitu tentang dunia ini yang berada di ujung tanduk lembu, jika lembu bergoyang maka terjadilah gempa. Gerhana yang didengarnya pertanda akan hari menjelang kiamat. Dia sangat takut datangnya kiamat, sebab akan berpisah dari nenek dan orang tuanya. Nah, setelah membaca buku ilmu falak itu dia pun paham tentang gejala alam.

Dari hasil membaca pula dia mampu melukiskan bagaimana mesin kenderaan bermotor bekerja. Dia membaca buku mekanik di peti buku ayahnya, di situ ada satu buku yang menerangkan tentang bagaimana mesin bekerja secara sederhana. Di usia dini, dia sudah paham bagaimana bekerja piston, dan pembakaran. Rupanya buku itu telah menjawab pertanyaan yang terbawa dalam mimpinya, yaitu kenapa mobil bisa berjalan sendiri?

Sejak itu, dia pun paham mengapa mobil sedan yang digunakan sebuah perusahaan di dekat kampungnya itu mesinnya ada di bagian belakang.

Ketika bertemu teman-temannya dia pun mengatakan, “nyan moto nyan mesin jih jiduk di likoet (mobil itu mesinnya ada di belakang).”

Langsung saja mereka menyanggah, “kiban jiduek di likot sedangkan dijak u keue. Weng jih pih di keu (bagaimana bisa di belakang, sedangkan jalannya ke depan. Setirnya pun di depan).”

Irwandi pun menjelaskan bahwa, mesin mobil itu bekerja untuk memutar roda, jadi sangat mungkin bagasi mobil menjadi tempat mesin dan kap mesin menjadi bagasi. Penjelasan ini, malah membuat teman-temannya makin mengerutkan dahi.

Tak hanya membuat bingung teman-temannya, kebiasaan Irwandi terkadang juga membuat Nafsiah mengerutkan dahi. Misalnya, suatu hari Nafsiah terkejut mendengar gedebak-gedebuk di kebun pisang belakang rumahnya. Ada pula teriakan, “ciat… ciat..”.

Penasaran, dia pun melongok. Dan yang dilihatnya, Irwandi sedang meniru gaya kung fu Bruce Lee --bintang film Hong Kong -- dan sasarannya menggebuk batang pisang. Sang ibu pun hanya bisa menarik nafas dalam-dalam. Pelajaran karate ini pun dibawanya ke sekolah. Dia memperagakan jurus-jurusnya saat jam istirahat, lalu  mengajak kawan-kawannya untuk mencoba kemampuannya itu, ya berkelahi.

Seperti itulah, Irwandi melalui masa kecilnya.

*******

Masih kenalkah Anda dengan Irwandi? “Kiban han ta turi, jinoe jih ka jeuet keu gubernur, watee jiwoe keuen murumpok syit ngeuen kamoe.” Begitu Mustafa, teman kecil Irwandi, menjawab. Irwandi memang sudah menjadi seorang gubernur setelah dipilih rakyat Aceh pada 2006, namun Mustafa tetap seorang petani kecil di Gampoeng Sagoe.[]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar