Deskripsi Diri

Khairil Anwar, SE, M.Si lahir di Paya Naden pada 20 April 1978 dari pasangan Tengku Umar bin Abu Bakar dan Fatimah binti Muhammad. Gelar Sarjana di peroleh dari Unsyiah Banda Aceh, sementara gelar Magister di peroleh dari SPs-USU Medan. Sejak tahun 2002 sampai saat ini bekerja sebagai dosen pada Prodi IESP Fakultas Ekonomi Universitas Malikussaleh. Menikah dengan Riza Izwarni dan telah dikarunia dua orang anak; Muhammad Pavel Askari dan Aisha Naury.

Selasa, 17 Januari 2012

Pengaruh Faktor Ekonomi Makro Terhadap Return Saham Di Bursa Efek Indonesia


Pengaruh Faktor Ekonomi Makro Terhadap Return Saham
Di Bursa Efek Indonesia

Anwar Puteh*

Pendahuluan
Investasi secara sederhana dapat diartikan sebagai usaha untuk memperoleh hasil atau keuntungan. Secara luas investasi adalah komitmen dari dana terhadap suatu aset atau lebih yang akan dipegang untuk beberapa waktu mendatang. Investasi dapat dilakukan melalui berbagai media investasi,
seperti pasar uang (money market), pasar modal (capital market), perusahaan reksadana, dan perusahaan-perusahaan investasi lainnya. Pasar modal adalah tempat bertemunya antara penjual modal/dana dengan pembeli modal/dana untuk melakukan transaksi jual beli dengan diperantarai oleh para anggota bursa selaku pedagang perantara perdagangan efek dalam melakukan transaksi jual beli, lembaga ini bisa disebut sebagai penunjang pasar modal. Modal/dana efek yang diperjualbelikan di pasar modal atau bursa tersebut pada umumnya berbentuk saham dan obligasi.
Tujuan dibentuknya pasar modal pada suatu negara adalah untuk memungkinkan terjadinya alokasi dana yang efisien dari pihak yang kelebihan dana (investor) ke pihak yang kekurangan dana (emiten). Melalui pasar modal, para investor dimungkinkan untuk melakukan diversifikasi, membentuk portofolio, sesuai dengan risiko yang ditanggung dan tingkat imbal hasil yang diharapkan. Oleh karena itu, investor diharapkan untuk selektif dan rasional dalam memilih berbagai kesempatan investasi yang tersedia melalui suatu proses penilaian investasi. Arbitrage Pricing Theory (APT) merupakan salah satu metode penilaian investasi yang dapat menentukan tingkat return yang dipandang layak untuk suatu investasi. APT mengasumsikan bahwa korelasi tingkat return saham terjadi karena saham-saham tersebut dipengaruhi oleh faktor bersama yang berasal dari perekonomian khususnya makroekonomi.
Membaiknya indikator makroekonomi dapat memberikan signal sebagai tanda bahwa iklim investasi juga akan semakin kondusif. Kinerja saham di pasar modal misalnya, dapat dipengaruhi oleh banyak faktor, terutama faktor dan variabel-variabel ekonomi Chen, et. al (dalam Pasaribu, et.al, 2008). Hasil penelitiannya menemukan fenomena bahwa perubahan pada harga sekuritas selalu terjadi sebelum terjadinya perubahan variabel-variabel indikator ekonomi. Hal ini didasari oleh dua alasan utama. Pertama, harga saham yang terbentuk merupakan cerminan ekspektasi investor terhadap earning, dividen maupun tingkat bunga yang akan terjadi. Hasil estimasi investor terhadap ketiga variabel tersebut akan menentukan harga saham yang sesuai. Kedua, kinerja pasar modal akan bereaksi terhadap perubahan-perubahan variabel ekonomi makro. Dengan demikian, harga sekuritas yang terbentuk merupakan refleksi ekspektasi investor terhadap kondisi perekonomian yang akan datang dan bukannya refleksi terhadap kondisi perekonomian saat ini.


Tinjauan Literatur  
Ada beberapa cara yang dapat digunakan untuk menganalisis hubungan antara variabel-variabel ekonomi terhadap pasar modal suat negara. Salah satu pendekatan yang sering dan populer yang digunakan adalah pendekatan Arbitrage Pricing Theory (APT) yang dikembangkan oleh Ross (1976). Chen et al, 1986 (dalam Pasaribu, et.al, 2008), dengan menggunakan pendekatan APT, membuktikan bahwa variabel-variabel makro ekonomi memiliki pengaruh sistematik terhadap tingkat pengembalian pasar saham. Kondisi makro ekonomi dianggap dapat mempengaruhi tingkat diskonto (discount rate), kemampuan perusahaan untuk menggerakkan aliran kas (cash flow), dan pembayaran dividen di masa yang akan datang (future dividen payout). Mekanisme ini menunjukkan bahwa kondisi ekonomi suatu negara merupakan faktor penting di pasar ekuitas (Maysami dan Sim Koh, 2000).
Taurida (2008) meneliti mengenai hubungan harga saham dan faktor-faktor ekonomi makro seperti inflasi, SBI, SWBI dan nilai tukar. Taurina mengatakan resiko pasar berhubungan erat dengan perubahan harga saham jenis tertentu atau kelompok tertentu yang disebabkan oleh antisipasi investor terhadap perubahan tingkat pengembalian yang diharapkan. Tingkat resiko diukur dengan koefisien beta (β) saham yaitu, ukuran risiko pasar yang mempengaruhi harga suatu saham. Kestabilan perusahaan akan berpengaruh pada return yang didapatkan pada pasar modal. Faktor lain yang berpengaruh besar terhadap return adalah faktor makroekonomi karena faktor tersebut sebagai indikator kestabilan suatu negara. Hasil riset Taurida ditemukan bahwa masing-masing variabel makroekonomi mempunyai hubungan yang negatif terhadap return AGR (agribisnis). Hasil penelitian menunjukkan bahwa untuk return AGR tidak mempunyai hubungan yang signifikan terhadap variabel makroekonomi (inflasi, SBI, SWBI dan nilai tukar).

Inflasi
Hasil beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa tingkat inflasi berhubungan negatif dengan tingkat pengembalian saham. Inflasi merupakan perubahan harga secara agregat. Penelitian mengenai inflasi dengan tingkat pengembalian saham (stock returns) telah banyak dilakukan, khususnya pada negara berkembang. Hasil beberapa penelitian menunjukkan bahwa tingkat inflasi berhubungan negatif dengan tingkat pengembalian saham.
Balduzzi (1995) melakukan penelitian mengenai inflasi dan tingkat  pengembalian saham untuk periode Januari 1954 – 1976 dan 1977 - 1990. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa inflasi mempunyai hubungan negatif dengan tingkat pengembalian saham. Hasil yang relatif sama juga dihasilkan dari penelitian Porter dan Null (2007), dimana inflasi mempunyai pengaruh negatif terhadap return harga saham.  Porter dan Null menemukan adanya hubungan negatif  antara real stock returns dengan inflasi. Ketika inflasi didekomposisi menjadi komponen yang expected dan unexpected ternyata mempunyai hubungan negatif antara real stock returns dan expected inflation.

Tingkat Suku Bunga
Tingkat suku bunga dapat didefinisikan sebagai tingkat pengembalian aset yang  mempunyai risiko mendekati nol. Investor dapat menggunakan tingkat bunga sebagai patokan (benchmark) untuk perbandingan bila ingin berinvestasi. Umumnya tingkat bunga mempunyai hubungan negatif dengan bursa saham. Bila pemerintah mengumumkan tingkat bunga yang lebih tinggi maka investor akan menjual sahamnya dan mengganti pada instrimun berpendapatan tetap yang memberikan tingkat bunga yang lebih tinggi. Dayananda dan Ko (dalam Pasaribu, et.al, 2008) melakukan penelitian mengenai tingkat pengembalian pasar saham terhadap variabel makro ekonomi, dimana salah satunya adalah tingkat bunga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tingkat bunga mempunyai hubungan negatif, tetapi umumnya tidak signifikan baik menggunakan data bulanan maupun triwulan. Alam, dan Uddi, (2009) meneliti mengenai hubungan antara indeks saham dan suku bunga pada lima belas negara maju dan berkembang-Australia, Bangladesh, Kanada, Chili, Kolombia, Jerman, Italia, Jamaika, Jepang, Malaysia, Meksiko, Filipina, S. Afrika, Spanyol, dan Venezuela, dengan menggunakan data bulanan dari 1988 sampai Maret 2003. Hasil empiris menunjukkan bahawa semua negara ditemukan antara tingkat suku bunga dengan return saham memiliki hubungan negatif yang signifikan.
Nilai Tukar (Kurs)
Kurs adalah harga suatu mata uang yang diekspresikan terhadap mata uang lainnya. Kurs dapat direpresentasikan sebagai sejumlah mata uang lokal yang dibutuhkan untuk membeli satu unit mata uang asing. Risiko nilai kurs merupakan risiko yang timbul akibat pengaruh perubahan nilai tukar mata uang domestik dengan mata uang negara lain. Perusahaan yang menggunakan mata uang asing dalam menjalankan aktivitas operasional dan investasi akan menghadapi resiko nilai tukar (kurs). Perubahan nilai tukar yang tidak diantisipasi oleh perusahaan akan berpengaruh pada nilai perusahaan tersebut.

Return dan Harga Saham
Return dapat dikatakan sebagai suatu imbalan dan sejumlah hasil yang akan dapat diperoleh investor di masa yang akan datang. Return dapat berupa return realisasi yang terjadi atau ekspektasi yang belum terjadi tetapi diharapkan akan terjadi di masa yang akan datang. Return realisasi di hitung berdasarkan data historis.  Tingkat pengembalian dari investasi khususnya pada pasar modal terdiri dari capital again dan yield.
Return saham (Ri) dari suatu investasi bagi para investor yaitu capital gain/capital loss ditambah deviden dapat dicari dengan rumus :


Notasi:
Ri, t      : Return saham investasi pada waktu i pada periode ke t
Pt         : Harga saham penutupan pada waktu t
Pt – 1     : Harga saham penutupan pada periode lalu (t -1)

Metodologi Penelitian
Data yang diperlukan adalah data harga saham bulanan selama periode Januari 2007 – Oktober 2009 yang diperoleh dari Bursa Efek Indonesie (http://finance.yahoo.com) dan data indikator ekonomi makro periode Januari 2007 – Oktober 2009 (www.bi.go.id). Model analisis yang digunakan adalah analisis time series dan korelasi untuk mengidentifikasi arah hubungan antara tingkat return saham dengan beberapa variabel ekonomi makro seperti inflasi, tingkat suku bunga dan nilai kurs. Pemilihan sampel didasarkan pada komposisi indeks JBA 25 dan yang mempunyai komposisi indeksnya berkisar antara 4% - 20%. Dari total 25 perusahaan, hanya 8 perusahaan yang memenuhi persyaratan.
Table 1: Industry Classification

No.
Kode
Emiten
Kelompok Usaha
1
MEDC
MEDCO ENERGY  INTERNATIONAL
Pertambangan
2
BBRI
BANK RAKYAT INDONESIA
Keuangan
3
AALI
ASTRA AGRO LESTARI
Pertanian
4
GGRM
GUDANG GARAM
Industri Barang Konsumsi
5
TLKM
TELEKOMUNIKASI INDONESIA
Infrastruktur, utilitas & Transportasi
6
INTP
INDOCEMENT TUNGGAL PRAKASA
Industri Dasar & kimia
7
UNTR
UNITED TRACTORS
Perdagangan, Jasa & Investasi
8
ASII
ASTRA INTERNATIONAL
Aneka Industri
http://www.bbj-jfx.com/node/1030

Analisis yang digunakan pada penelitian ini adalah analisis regresi berganda (multiple regression). Metode estimasi yang digunakan pada penelitian yang digunakan ordinary least square (OLS). Hasil estimasi menggunakan metode OLS diharapkan bersifat Best Unbiased Linear Estimate (BLUE). Adapun bentuk umum model yang akan digunakan adalah sebagai berikut:

Rit = αi + βiM Mt + εit                                                                                                                    (1)

Rit = αi + βiInt ΔInt + βiInf Inf + βiExc ΔExc + εit                                                              (2)

Rit = αi + βiInt ΔInt + βiInf Inf + βiExc ΔExc + βiM Mt + εit                                          (3)

Notasi:
Ri        : Return masing-masing saham perusahaan
β          : Koefisien estimasi
ΔInt     : Perubahan interest rate
Inf       : Inflation rate
ΔExc   : Perubahan exchange rate
M           : Total market
ε          : Error
APT diperkenalkan oleh CRR tahun 1986 (Günsel dan Cukur, 2007) untuk mengidentifikasi variabel makro yang mempengaruhi return saham. Dengan demikian kegiatan ekonomi makro mempengaruhi return terhadap saham dan memanfaatkan variable makro dalam proses menghasilkan return (return generating process) sebagai dasar untuk memperkirakan return saham. Sederhana teori-teori pricing a financial asset adalah dengan discounting future cash flows. Oleh karena itu, berikut variabel eksogen yang mempengaruhi future cash flows atau risk adjusted discount rate dari sebuah perusahaan harus dipertimbangkan. Tujuannya adalah untuk mengidentifikasi kekuatan-kekuatan ekonomi makro yang mempengaruhi stock market.



Hasil
Hasil estimasi dari model yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Tabel 1. Statistik Desriptif


Mean
Std. Deviation
Interest Rate
0.08267
0.00828
Inflation Rate - Monthly
0.59867
0.61219
Ln_Exchange Rate
9.19018
0.09374
Return MEDC
0.02533
0.19378
Return BBRI
0.00033
0.15562
Return AALI
0.01467
0.26443
Return GGRM
-3.585E-18
0.12833
Return TLKM
0.012
0.10060
Return INTP
-0.009
0.17652
Return UNTR
0.01767
0.39231
Return ASII
-0.01
0.20194
Return IHSG
6.333E-05
0.11539

Dari hasil perhitungan rata-rata return saham, makroekonomi dan standar deviasi terlihat bahwa Rate of Return yang relatif labil dan cenderung negatif, walaupun nilai perhitungan rata-rata tidak membuktikan saham ini mengalami defisit dalam pengembalian keuntungan, pergerakan harga saham masih menunjukan kemungkinan saham ini akan mengalami penurunan, karena tren harga saham ini mengarah pada level harga yang terus-menerus menurun, atau sebaliknya jika cenderung positif. Tahap yang terakhir, dapat dilakukan dengan cara menghitung standard deviasi dari return pasar dan saham. Setelah dilakukan perhitungan, maka diperoleh standard deviasi untuk return saham berkisar antara  0.10060 sampai dengan 0.39231.  Semakin besar standard deviasi, maka semakin tinggi tingkat resikonya. Hal ini berarti bahwa harga saham perusahaan merupakan saham yang beresiko karena standard deviasinya lebih besar daripada standard deviasi return pasar (0.11539).

Tabel 2. Korelasi Antar Variable Ekonomimakro


Interest Rate
Inflation Rate
Ln_Exchange Rate
Interest Rate
1.000


Inflation Rate
-0.033
1.000

Ln_Exchange Rate
0.129
-0.471
 1.000

Nilai korelasi antara hubungan inflasi rate dan interest rate adalah – 0.033, ini artinya ada korelasi negatif atau tidak searah inflasi rate dengan interest rate. Hubungan negatif ini juga terjadi pada exchange rate dan inflation rate berkorelasi negatif sebesar  0.471. Sedangkan hubungan exchange rate dengan interest rate berkorelasi positif, namun sifat hubunganya lemah (0.129).






Tabel 3. Koefisien Estimasi Total Market


αi
βM Mt
MEDC
0.0254
1.3959

0.2152
0.000***
BBRI
0.0004
1.1668

0.9797
0.000***
AALI
0.0147
0.5806

1.9340
0.000***
GGRM
2.54E-05
0.7630

0.9988
0.000***
TLKM
0.0120
0.6256

0.3636
0.000***
INTP
-0.0090
0.6037

1.3065
0.000***
UNTR
0.0178
2.8722

0.6522
0.000***
ASII
-0.0099
0.4934

1.6172
0.000***
                              Keterangan: *p< 0,1., **p< 0,05., dan ***p< 0.01

Dan hasil pengujian, dapat diketahui bahwa keseluruhan dari 8 saham perusahaan yang termasuk dalam komposisi indek JBA 25 yang diuji, semua tingkat pengembaliannya dipengaruhi secara signifikan oleh tingkat pengembalian pasar (return market), hal ini adalah berdasarkan model regresi sederhana, adapun pada model regresi berganda yang lebih kompleks yang melibatkan variabel-variabel lain, terlihat bahwa hampir semua yang tingkat pengembaliannya berkorelasi positif tetapi tidak signifikan oleh tingkat pengembalian pasar. Umumnya tingkat pengembalian pasar berpengaruh positif pada tingkat pengembalian saham perusahaan. Konsekuensinya, model ini bisa digunakan sebagai alat prediksi dan hubungan antar variabel.
Tabel 4. Koefisien Estimasi Variabel Ekonomimakro


α
βInt Int
βInf Inf
βExc ln_Exc
Adj. R2
MEDC
2.069
3.752
0.046
0.259
-0.034

0.617
0.408
0.501
0.566
BBRI
4.654
1.813
0.985
0.523
-0.002

0.162
0.612
0.985
0.150
AALI
6.173
6.894
0.086
0.738
0.092

0.249
0.238
0.331
0.207
GGRM
5.111
4.160
0.046
-0.597
0.295

   0.031**
 0.100*
0.222
    0.022**
TLKM
4.446
0.395
-0.014
-0.485
0.078

   0.036**
0.858
0.680
    0.036**
INTP
4.601
4.259
0.033
-0.542
0.052

0.209
0.284
0.581
0.176
UNTR
6.976
9.460
0.089
-0.848
0.012

0.397
0.294
0.511
0.346
ASII
4.460
5.578
0.043
-0.539
0.047

0.286
0.222
0.222
0.238
IHSG
2.775
3.994
0.038
-0.340
0.136

0.224
0.112
0.319
0.173
         Keterangan: *p< 0.01, **p< 0.05

Adapun Variabel interest  berpengaruh positif terhadap 8 saham perusahaan. Namun demikian variabel tersebut hanya signifikan pada 1 saham saja (GGRM). Variabel inflation berpengaruh negatif terhadap 1 saham perusahaan dan selebihnya negative, dan tidak ada satupun yang menunjukkan signifikansi. Inflation berpengaruh secara signifikan hanya terhadap 2 saham. Penguatan mata uang Rupiah melalui variabel exchange terlihat akan berpengaruh secara positif terhadap return  saham hanya pada 3 saham perusahaan sedangkan pada 6 saham perusahaan lainnya berpengaruh negatif. Namun demikian hanya pada 2 saham yang ditemui pengaruhnya yang signifikan dari variabel exchange pada penelitian ini.

Tabel 5. Koefisien Estimasi Variabel Ekonomimakro dan Total Return


α
βInt Int
βInf Inf
βExc ln_Exc
βM M
Adj. R2
MEDC
-2.167
-2.344
-0.011
0.260
1.526
0.667

0.373
0.387
0.784
0.331
0.000***
BBRI
1.098
-3.305
-0.047
-0.087
1.281
0.769

0.499
  0.075*
   0.086*
0.627
0.000***
AALI
0.911
-0.679
0.015
-0.092
1.896
0.671

0.781
0.852
0.781
0.798
0.000***
GGRM
3.498
1.838
0.025
-0.399
0.581
0.512

 0.080*
0.397
0.441
  0.070*
0.000***
TLKM
2.614
-2.241
-0.039
-0.261
0.660
0.555

 0.080*
0.173
0.114
0.111
0.000***
INTP
0.910
-1.052
-0.017
-0.089
1.329
0.693

0.667
0.655
0.630
0.700
0.000***
UNTR
-1.362
-2.539
-0.023
0.175
3.003
0.674

0.778
0.638
0.770
0.743
0.000***
ASII
-0.205
-1.135
-0.020
0.033**
1.680
0.837

0.908
0.564
0.488
0.866
0.000***
Keterangan: *p< 0.1, **p< 0.05, **p< 0.001


            Dari tabel 4 di atas terlihat bahwa tidak adanya perbedaan antara total market pada model 1 dan model 3. Dari hasil regresi terlihat bahwa variabel-variabel bebas relatif lebih kecil dalam mempengaruhi variable dependen. Secara keseluruhan, keempat variabel bebas (interest rate, inflation rate, exchange rate dan total market) mampu menjelaskan variasi variabel dependen (return saham), ditunjukkan oleh nilai adjusted Rsquared rata berkisar antara 51,2% - 83,7%. Hanya variabel pasar saja yang mempunyai titik intercept yang signifikan dan dikuatkan juga dengan tingginya nilai t-statistik yang signifikan pada α = 5%. Dalam model 3 ini variabel interest  berpengaruh negatif terhadap 7 saham perusahaan, dan hanya satu yang berkorelasi positif  (GGRM). Pada variabel inflation rata-rata berpengaruh negatif terhadap return saham perusahaan, kecuali saham perusahaan AALI dan GGRM. Sedangkan pada variabel exchange terlihat bahwa pengaruh positif terhadap return saham pada 4 saham perusahaan dan pengaruh negatfi pada 5 saham perusahaan.
Ini menandakan bahwa nilai estimasi antara model 1 dan model 3 untuk variabel total market tidak ada perbedaan, begitu juga dengan variable ekonomimakro (model 2 dan model 3) tidak ada perbedaan yang signifikan. Ini artinya bahwa variable ekonomi makro relatif kecil dapat memprediksikan return saham, bahkan pada beberapa saham perusahaan tidak bisa diprediksikan, dan ini hanya dapat mengambarkan saja hubungan antara ekonomimakro dan return saham. Perubahan variabel makro tidak serta merta merubah return saham saat itu juga. Oleh karena itu untuk membuktikan hipotesis berdasarkan teori, penggunaan model linier klasik saja kemungkinan besar tidak cukup, tetapi perlu dilengkapi dengan model lain.

Kesimpulan
Dari hasil penelitian tidak dapat menunjukkan signifikansi pengaruh variabel-variabel independen (ekonomimakro) terhadap return saham perusahaan secara memadai, hal ini memperlihatkan bahwa kondisi Bursa Efek di Indonesia (BFJ) merupakan contoh pasar yang belum efisien sehingga masih banyak variabel lain yang mempengaruhi kinerja return saham. Model yang telah dibentuk sendiri hanya signifikan pada variable total market saja yang signifikani. Berdasarkan hasil penelitian ini, kekuatan variabel-variabel independen yang diuji dalam mempengaruhi return saham perusahaaan secara berturut-turut, meskipun relative kecil korelasinya ialah; interest rate, inflation rate, dan exchange rate. Artinya Tingkat pengembalian pasar membeikan pengaruh kuat dibandingkan variabel lainnya, sebaliknya exchange rate memberikan pengaruh paling lemah dibandingkan variabel lainnya.
Dengan melihat fenomena tersebut, maka para investor jangan terlalu khawatir dengan kondisi perekonomian yang tidak pasti (uncertainty) yang memang akan selalu ada dan harus dihadapi para investor, hal ini dibuktikan dengan temuan ini bahwa kondisi ekonomimakro relatif kecil pengaruhnya terhadap return saham. Namun demikian, investor diharapkan dapat berhati-hati dengan kondisi ketidakpastian tersebut yang akan bisa menimbulkan resiko yang tinggi pula bagi para investor.

Referensi

Alam, Md. Mahmudul dan Md. Gazi Salah Uddi, (2009), Relationship between Interest Rate and Stock Price: Empirical Evidence from Developed and Developing Countries, International Journal of Business and Management, Volume 4, No. 3

Balduzzi, Pierluigi (1995) Stock returns, inflation, and the ‘proxy hypothesis’: A new look at the data, Economics Letters, Volume 48, Issue 1, April 1995, Pages 47-53

Chen, N. F., R. Roll, dan S. Ross. (1986), Economic Forces and Stock Market, Journal of Business 59.

Gay, Robert D., (2008), Effect Of Macroeconomic Variables On Stock Market Returns For Four Emerging Economies: Brazil, Russia, India, And China, International Business & Economics Research Journal – March 2008 Volume 7, Number 3

Günsel dan Cukur, (2007), The Effects of Macroeconomic Factors on the London Stock Returns: A Sectoral Approach, International Research Journal of Finance and Economics, ISSN 1450-2887 Issue 10 (2007)

Jeffrey F. Jaffe dan Gershon Mandelker, (1976), Inflation and the Holding Period Returns on Bonds," Rodney L. White Center for Financial Research Working Papers 8-75, Wharton School Rodney L. White Center for Financial Research.

Maysami, R. C. dan Tiong Sim Kho (2000). A vektor Error Correction Model of the Singapore Stock Market, International Review of Economics and Finance. Elsivier Science Science Inc, North  Holland



References and further reading may be available for this article. To view references and further reading you must purchase this article.
Pasaribu, Pananda., Wilson R. L. Tobing dan Adler Haymans Manurung, (2008), Pengaruh Variabel Makroekonomi terhadap IHSG, Working Paper

Porter, David C. dan Null Jianzhou Zhu, (2007), Efficeint Markets, Real Stock Returns and  Expected Inflation : Evidence Using the Michigan Inflation, Journal of International Finance and Economic, Volume VII, Number 1, 2007

Taurida, Adinda, (2008), The Relationship Between Variabel Macroeconomic and Beta of Share to Return of Share Company Sector of Agribusiness and Non Agribusiness in Group Jakarta Islamic Index, Thesis, Tidak dipublikasikan, Magister of Business, Institute Technology Bandung



1 komentar:

  1. artikel yang menarik, kami juga punya artikel tentang 'Bursa Efek Indonesia' silahkan buka link ini
    http://repository.gunadarma.ac.id/bitstream/123456789/1231/1/10207592.pdf
    semoga bermanfaat ya

    BalasHapus