Deskripsi Diri

Khairil Anwar, SE, M.Si lahir di Paya Naden pada 20 April 1978 dari pasangan Tengku Umar bin Abu Bakar dan Fatimah binti Muhammad. Gelar Sarjana di peroleh dari Unsyiah Banda Aceh, sementara gelar Magister di peroleh dari SPs-USU Medan. Sejak tahun 2002 sampai saat ini bekerja sebagai dosen pada Prodi IESP Fakultas Ekonomi Universitas Malikussaleh. Menikah dengan Riza Izwarni dan telah dikarunia dua orang anak; Muhammad Pavel Askari dan Aisha Naury.

Selasa, 17 Januari 2012

ANALYSIS IMPACT OF VILLAGE DEVELOPMENT PROGRAM (PPG) TO INCREASING INCOME THE POOR FAMILY


ANALYSIS IMPACT OF VILLAGE DEVELOPMENT PROGRAM (PPG) TO INCREASING INCOME THE POOR FAMILY
IN ACEH UTARA DISTRICT

Muhammad Nasir, SE, M.Si
(Dosen Tata Niaga Politeknik Negeri Lhokseumawe)

ABSTRACT
The purpose of this research is to know how much impact of village development program (PPG) on the increasing of the poor family and decreasing poverty level in Aceh Utara District. This research is to analysie the influence if amount of working capital aid of PPG, working hours, and direct cash aid (BLT) on the earnings of receiver of aid.
This research use linear regression and descriptive quantitative method with primary and secondary data. The primary data is obtained by using distribution of the questionnaires and interview towards the household receiver aid PPG with cluster sampling in 3 sub-district’s, 13 village’s and 86 household’s. The secondary data is obtained by observing the data from the government agency office that related to the matter is Bappeda, BPS, BPMD Aceh Utara District.
The findings of the research show that poverty gap index in Aceh Utara district is 0,1547 and poverty severity index is 0,0455. The findings of the research also show that amount of working capital aid of PPG,  working hours, and  direct cash aid have a positive impact on earnings of receiver of aid, simultaneously and also partial. PPG is able to increase the income of people is 6,47%, and to decreasie of poverty level 3,39%. So that recommended to government of Aceh Utara District to the continued of the PPG program’s.

Keywords : income, capital aid, time of work, poor family.

1.PENDAHULUAN

1.1.  Latar Belakang Penelitian

            Persoalan kemiskinan yang timbul merupakan suatu masalah utama yang harus dihadapi oleh pemerintah dalam melaksanakan pembangunan, karena kemiskinan menyebabkan penduduk tidak mampu memenuhi kebutuhan pokoknya yang  sesuai dengan standar kualitas hidup yang baik. Untuk mengatasi hal tersebut pemerintah perlu mengidentifikasi faktor-faktor penyebab kemiskinan yang terjadi. 
            Penyebab kemiskinan diakibatkan oleh dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal meliputi budaya malas, kebiasan buruk, keterampilan yang dimiliki masih rendah, dan faktor kekurangan fisik lainnya. Sedangkan faktor eksternal meliputi masih maraknya korupsi, kebijakan-kebijakan pemerintah dalam pembangunan yang tidak memperhatikan kebutuhan masyarakat bawah, seperti sektor pendidikan, kesehatan dan sektor dasar lainnya. Akibat kedua faktor tersebut menyebabkan produktivitas masyarakat dalam memenuhi kebutuhan dasar hidupnya menjadi rendah.   
            Akibat krisis ekonomi yang menekan perekonomian Indonesia yang terjadi pada tahun 1997 telah membawa dampak yang buruk terhadap Negara Indonesia termasuk didalamnya Kabupaten Aceh Utara. Salah satunya dapat dilihat melalui angka kemiskinan yang masih cukup tinggi terutama di Kabupaten Aceh Utara. Keadaan ini diperparah lagi dengan terjadinya konflik bersenjata antara TNI/POLRI dan GAM sejak tahun 1998 sampai 2005, serta bencana gempa dan tsunami yang menimpa wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam pada akhir tahun 2004, yang berakibat terhambatnya pembangunan disegala bidang yang sedang dilaksanakan, hancurnya sarana dan prasarana umum, dan hilangnya sumber-sumber perekonomian di seluruh wilayah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam umumnya dan Kabupaten Aceh Utara khususnya. Keadaan tersebut berdampak pada meningkatnya angka kemiskinan yang relatif tinggi di Kabupaten Aceh Utara. Ini dapat dilihat pada Tabel 1.1 di bawah ini.
Tabel 1.1
Jumlah Kepala Keluarga, Kepala Keluarga Miskin, dan Persentase Keluarga Miskin Kabupaten Aceh Utara (Tahun 2003 - 2005 - 2009)

No.
Tahun
Jumlah KK
Jumlah KK Miskin
Persentase KK Miskin
1.
2003
96.992
42.216
43,53
2.
2005
104.141
46.344
44,51
3.
2009
106.682
55.438
51,97
Sumber : BPS dan BAPPEDA Kabupaten Aceh Utara.
            Program penanggulangan kemiskinan di Indonesia telah dilakukan sejak zaman penjajahan yaitu melalui transmigrasi. Pada masa orde baru sampai sekarang ini pemerintah telah meluncurkan berbagai Inpres dalam rangka penanggulangan kemiskinan, seperti Inpres Kesehatan, Inpres Pasar, Inpres Pendidikan dan terakhir Inpres Desa Tertinggal (IDT), namun masih banyak program dan proyek penanggulangan kemiskinan lainnya seperti Program Tabungan Keluarga Sejahtera (Takesra), Kredit Usaha Keluarga Sejahtera (Kukesra), Proyek Pembangunan Prasarana Pendukung Desa Tertinggal (P3DT), Program Pengembangan Kecamatan (PPK), Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP).
            Salah satu upaya yang dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Aceh Utara dalam rangka mengurangi kemiskinan di daerahnya yaitu dengan meluncurkan program PPG yang berpola seperti pola program PPK yang dibiayai Bank Dunia. Sumber dana untuk PPG adalah dari APBD Kabupaten Aceh Utara yang dialokasikan selama dua tahun anggaran yaitu Tahun Anggaran 2002 dan 2003 yang diperuntukkan untuk biaya operasional, bidang sarana dan prasarana, dan bidang ekonomi produktif, serta bidang sosial kemasyarakatan.
            Dana PPG yang telah dialokasikan sejak tahun anggaran 2002 dan 2003, tetapi pelaksanaan PPG baru direalisasikan pada tahun 2004 dan 2005. Hal ini dilakukan, mengingat situasi dan kondisi di Kabupaten Aceh Utara pada saat tersebut masih dalam keadaan konflik, dan dikhawatirkan dana tersebut tidak tepat sasaran.
            Pemerintah Kabupaten Aceh Utara sangat serius dalam penanggulangan kemiskinan, dimana seluruh desa (gampong) yang berjumlah 852 gampong di Kabupaten Aceh Utara mendapat bantuan langsung dana PPG. Dan pada tahun 2005 keluarga miskin di Kabupaten Aceh Utara juga mendapat Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang berasal dari dana kompensasi bahan bahar minyak. Bantuan ini juga berpengaruh terhadap pendapatan keluarga miskin, tetapi kenyataannya jumlah penduduk miskin di Kabupaten Aceh Utara masih tetap tinggi. 
            Kenyataan yang didapat tersebut mengundang banyak pertanyaan diantaranya kemungkinan program tersebut kurang tepat sasaran, atau tidak adanya kelanjutan dari program tersebut, atau kemungkinan lain terjadinya peningkatan jumlah penduduk miskin akibat adanya konflik dan bencana gempa serta tsunami yang melanda Kabupaten Aceh Utara. Oleh karena itu penelitian ini difokuskan pada dampak dari PPG yang diterapkan dalam penanggulangan kemiskinan di Kabupaten Aceh Utara, terutama dalam hal peningkatan pendapatan keluarga miskin.
1.2.  Permasalahan
            Berdasarkan latar belakanga masalah penelitian di atas maka dapat dirumuskan permasalah sebagai berikut apakah kebijakan penanggulangan kemiskinan melalui program PPG dan Bantuan Langsung Tunai (BLT) serta jumlah jam kerja berdampak terhadap peningkatan pendapatan keluarga miskin dan dapat mengurangi jumlah penduduk miskin?
1.3.  Tujuan Penelitian
Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui dampak program PPG dan BLT serta jumlah jam kerja dalam meningkatkan pendapatan keluarga miskin dan mengurangi jumlah penduduk miskin.
1.4.  Kegunaan Penelitian
1.      Sebagai masukan dan bahan pertimbangan bagi para pengambil kebijakan dan para perencana pembangunan di Pemerintah Kabupaten Aceh Utara khususnya dan Pemerintah Provinsi NAD umumnya, serta pihak-pihak lain yang berkecimpung dalam bidang atau program penanggulangan kemiskinan.
2.      Sebagai karya ilmiah yang dapat memberikan konstribusi terhadap pengembangan ilmu pengetahuan khususnya bidang ekonomi pembangunan.

2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1              Landasan Teori
2.1.1        Pengertian Kemiskinan
           
            Kemiskinan merupakan suatu persoalan dalam setiap negara yang selalu diusahakan untuk ditanggulangi demi meminimalisasinya atau bahkan untuk dihilangkan. Namun kenyataannya kemiskinan masih dapat ditemui dan terjadi dalam setiap kehidupan manusia di dunia ini terutama di negara-negara terbelakang atau sedang berkembang termasuk di Indonesia yang ditandai oleh banyaknya pengangguran, keterbelakangan dan keterpurukan.
            World Bank (2002 : 1-2) mendifinisikan kemiskinan merupakan kemampuan atau sumber daya yang dimiliki oleh rumah tangga atau individu untuk memenuhi kebutuhannya, berdasarkan aspek perbandingan pendapatan, pengeluaran, pendidikan, atau kelengkapan lain dari individu dengan beberapa batasan yang ditentukan, dan mereka yang berada di bawah batas yang ditentukan tersebut dikatakan sebagai miskin. Dan penyebab kemiskinan menurut World Bank (2002 : 131) adalah disebabkan oleh faktor-faktor berupa  karakteristik penduduk menurut wilayah atau komunitas yaitu kondisi tempat tinggal di daerah pedesaan/perkotaan, karakteristik rumah tangga dan individu yaitu struktur dan ukuran rumah tangga, rasio ketergantungan dan jender kepala rumah tangga, karakteristik ekonomi meliputi pendapatan, pengeluaran, ketenagakerjaan, dan karakteristik sosial meliputi kesehatan, pendidikan, tempat tinggal atau perumahan.
            Bappenas (1994) mengemukakan kemiskinan adalah situasi serba kekurangan, yang terjadi bukan karena dikehendaki simiskin, melainkan karena tidak dapat dihindari dengan kekuatannya sendiri. Kemiskinan antara lain ditandai dengan sikap dan tingkah laku yang menerima keadaan seakan tidak berubah, yang tercermin di dalam lemahnya keinginan untuk maju, rendahnya kualitas sumber daya manusia, rendahnya produktifitas, terbatasnya modal, rendahnya pendapatan, terbatasnya kesempatan berpartisipasi dalam pembangunan.
            Berdasarkan penjelasan BPS (2003) yaitu rumah tangga yang mempunyai anggota rumah tangga banyak, kepala rumah tangga merupakan pekerja, tingkat pendidikan rumah tangga maupun anggotanya rendah, sering berpindah-pindah lapangan pekerjaan dan sebagian lain pendapatannya bersumber dari sektor pertanian. Kemiskinan juga juga diukur menurut batasan garis kemiskinan, seperti yang dikemukakan Sajogyo (1977) (Mubyarto 1990 : 153)  kemiskinan ditentukan berdasarkan garis kemiskinan yang mana penentuan garis kemiskinan ditentukan berdasarkan kebutuhan minimum rumah tangga adalah 240 Kg beras setiap orang per tahun di pedesaan dan 360 Kg beras setiap orang per tahun di daerah kota. Penetapan garis kemiskinan ini setara dengan nilai beras di maksudkan untuk dapat membandingkan tingkat hidup antar waktu dan perbedaan harga kebutuhan pokok antar wilayah.
2.1.2    Program Pembangunan Gampong (PPG)
            Diperlukan sikap yang tidak memperlakukan orang miskin sebagai objek, tetapi sebagai subjek pembangunan. Orang miskin bukan orang yang tidak apa-apa melainkan orang yang memiliki sesuatu, walaupun seadanya (Mubyarto, 1999:169). Dilandasi pemikiran untuk menempatkan masyarakat sebagai subjek pembangunan, maka Pemerintah Kabupaten Aceh Utara pada tahun 2002 mewujudkan suatu suatu sistim pembangunan daerah yang aspiratif dan partisipatif melalui PPG. Program ini ditujukan untuk mendekatkan pembangunan kepada masyarakat paling bawah dalam menanggulangi kemiskinan dan ketergantungan terhadap pihak lain. Disamping itu program ini bertujuan memperkecil ketimpangan pembangunan diantara masyarkat gampong dan kota, sehingga dapat mempercepat tercapainya tingkat kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh.
Beberapa prinsip yang digunakan dalam pengelolaan PPG antara lain dikelola secara terbuka oleh masyarakat dan dapat dipertanggung jawabkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku, dapat menambah pendapatan dengan cara mendidik masyarakat agar mampu mengelola kegiatan pembangunan secara profesional dan ekonomis, dan hasil dari pembangunan harus digulirkan oleh dan untuk masyarakat itu sendiri, sehingga dapat menciptakan akumulasi modal dalam wadah perekonomian gampong (Bappeda, 2002). Berdasarkan prinsip tersebut maka kegiatan ekonomi produktif meliputi bidang pertanian tanaman pangan, perkebunan, perikanan, peternakan, industri dan perdagangan kecil menjadi salah satu sasaran dan kegiatan prioritas program.
Disamping program PPG, Kabupaten Aceh Utara juga mendapat Bantuan Langsung Tunai (BLT) yaitu dana kompensasi Bahan Bakar Minyak (BBM) dari pemerintah pusat yang khusus diberikan kepada kelurga miskin.
2.1.3              Pendapatan
Pendapatan biasanya digunakan untuk menentukan tingkatan taraf hidup suatu penduduk, oleh karena itu pembangunan yang dilaksanakan ditujukan salah satunya untuk meningkatkan pendapatan penduduk. Todaro (2000 : 47) mengemukakan bahwa tinggi rendahnya kemiskinan pada suatu negara tergantung pada tingkat pendapatan nasional rata-rata, dan juga tinggi rendahnya tingkat kesenjangan dalam distribusi pendapatan. Tingginya pendapatan nasional per kapita suatu negara tanpa diikuti dengan pemerataan distribusi pendapatan akan membuat angka kemiskinan tetap tinggi. Demikian juga sebaliknya pendistribusian pendapatan yang merata tanpa adanya peningkatan pendapatan akan membuat kemiskinan meluas dan meningkat.
2.1.4              Jam Kerja
Jam kerja merupakan waktu yang digunakan untuk bekerja dan dapat dilihat dari adanya produktivitas tenaga kerja. Hasan (1992) (Diliana, 2005 : 18) mengutarakan bahwa setiap jam kerja yang digunakan oleh seorang tenaga kerja yang berhubungan dengan kegiatan usahanya maka ia akan mendapatkan pembayaran upah sebagai hasil pendapatan yang diterimanya. Jika tingkat upah dianggap sebagai produksi dari pendapatan maka dengan demikian besarnya pendapatan akan ditentukan atau dipengaruhi oleh besarnya jam kerja.
2.1.5              Kesenjangan Kemiskinan
 Menurut Masbar (2002 : 272) kesenjangan pendapatan terjadi akibat adanya masyarakat yang memiliki akses dan tidak memiliki akses terhadap pembangunan. Kelompok kedua ini tetap miskin dan tidak mampu menaikkan taraf hidup mereka sedangkan kelompok pertama terus mengalami peningkatan pendapatan dan kesejahteraan sehingga jurang antara kedua kelompok tersebut akan terus melebar. Hal ini akan menimbulkan berbagai persoalan sosial di masa yang akan datang.
World Bank (2002 : 69 – 72), merekomendasikan beberapa ukuran/indeks kemiskinan diantaranya Poverty Gap Index dan Poverty Severity Index. Poverty Gap Index (Indeks Kesenjangan Kemiskinan) yaitu menghitung seberapa jauh individu jatuh di bawah garis kemiskinan (jika mereka termasuk kategori miskin), dan menyatakan indeks tersebut sebagai suatu persentase terhadap garis kemiskinan. Secara lebih spesifik indeks ini mendefinisikan kesenjangan kemiskinan dikurangi pendapatan/pengeluaran dari individu/penduduk miskin. Sedangkan Poverty Severity Index (Indeks Keparahan Kemiskinan) yaitu digunakan untuk memecahkan ketimpangan distribusi pendapatan/pengeluaran diantara penduduk miskin, ukuran ini secara sederhana merupakan jumlah dari kesenjangan kemiskinan tertimbang (sebagai proporsi garis kemiskinan), dimana penimbangnya adalah sebanding dengan kesenjangan kemiskinan itu sendiri.  
2.2.      Penelitian Sebelumnya
            Penelitian yang dilakukan oleh Chambers (1988) mengenai kemiskinan menemukan pokok masalah yang menyebabkan orang miskin. Penyebabnya ada lima kelemahan yang dimiliki rumah tangga miskin yaitu keterbatasan kepemilikan asset, kondisi fisik yang lemah, keterisolasian, kerentanan dan ketidak berdayaan.
            Mubyarto (2003) mengemukakan terjadi peningkatan pendapatan pada penduduk miskin di daerah IDT Gunung Kidul sebesar 97% setelah diberikan bantuan penanggulangan kemiskinan selama 8 tahun (1994 – 2002). Demikian juga hasil penelitian Yahya (1997), terjadi peningkatan pendapatan penduduk miskin rata-rata sebesar 18,35% selama 2 tahun (tahun anggaran 1994/1995 dan 1995/1996) penyaluran dana Inpres Desa Tertinggal (IDT) pada desa tertinggal di Banda Aceh.
            Menurut hasil penelitian Santosa, Hidayat dan Indroyono (2003), terjadi kenaikan pendapatan keluarga miskin peserta program IDT sebesar 36,4% setelah pelaksanaan program IDT selama 8 tahun di DI Yogyakarta, dan penduduk miskin yang menjadi sasaran program (TAR) adalah 80,2%, sedangkan nilai Poverty Reduction (PR) adalah sebesar 15% pada program Inpres Desa Tertinggal (IDT), dan sebesar 13,4% pada Program Pengembangan Kecamatan (PPK) pada tahun 2001 – 2003, sedangkan untuk program P2KP terjadi penurunan angka penduduk miskin sebesar 5%.
2.3       Hipotesis
            Berdasarkan teori-teori yang dikemukakan dan hasil penelitian sebelumnya dapat diajukan hipotesis pada penelitian ini adalah : Program Pembangunan Gampong (PPG) dan BLT serta jumlah jam kerja dapat meningkatkan pendapatan keluarga miskin dan dapat mengurangi jumlah penduduk miskin.

3.     METODE PENELITIAN
3.1    Ruang Lingkup Penelitian
Lokasi penelitian dilakukan di Kabupaten Aceh Utara Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dengan memilih sebanyak 3 kecamatan dari 22 kecamatan yang mendapat bantuan, yang meliputi masing-masing 1 kecamatan mewakili wilayah barat, 1 kecamatan wilayah tengah, dan 1 kecamatan wilayah timur dari wilayah Kabupaten Aceh Utara dan merupakan kecamatan yang mendapat bantuan PPG.
Hal yang dianalisis adalah dampak PPG dalam menurunkan angka kemiskinan melalui peningkatan pendapatan keluarga miskin, dan variabel yang yang akan diteliti adalah pendapatan kelurga miskin, pengaruh pendapatan lainnya seperti jam kerja dan batuan lainnya seperti bantuan langsung tunai.
3.2    Metode Pemilihan Sampel
Sesuai dengan masalah yang ingin dibahas dan mengingat keterbatasan waktu, tenaga dan biaya, maka pemilihan Kepala Keluarga (KK) untuk menjadi responden dari populasi yang ada ditentukan secara cluster atau wilayah (cluster random sampling). Nazir (2003 : 313) mengemukakan bahwa cluster random sampling baik digunakan untuk penelitian dengan biaya terbatas dan catatan lengkap tentang unit elementer dalam populasi tidak diperoleh. Dan ditambahkan juga bahwa pengambilan sample fraction untuk setiap tahap dapat bervariasi. Pengambilan sampel dengan metode ini dianggap cukup untuk mewakili populasi yang akan diteliti.   
Pada tahap pertama ditentukan 10% dari jumlah kecamatan yang mendapat bantuan PPG yaitu sebanyak 3 kecamatan yang terpilih adalah Kecamatan Tanah Jambo Aye, Syamtalira Bayu, dan Muara Batu. Pada tahap kedua untuk menentukan gampong (desa) yang dijadikan sampel adalah 10% dari gampong yang terdapat dalam kecamatan yang terpilih, sehingga didapat jumlah desa sampel seluruhnya 13 gampong yaitu Kec. Tanah Jambo Aye 5 gampong, Kec. Syamtalira Bayu 5 gampong, dan Kec. Muara Batu 3 gampong. Pengambilan sample KK miskin penerima dana bantuan PPG adalah sebesar 25% dari jumlah KK miskin penerima bantuan PPG yang terdapat pada masing-masing gampong terpilih. Sehingga jumlah KK miskin yang dijadikan sampel adalah 86 KK.
3.3    Teknik Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan data sekunder dan data primer. Data sekunder mengenai jumlah penduduk, jumlah penduduk miskin, pendapatan perkapita, PDRB Kabupaten Aceh Utara, jumlah alokasi dana PPG diperoleh dari instansi BPS, BAPPEDA dan BPMD Kabupaten Aceh Utara. Sedangkan data primer diperoleh melalui wawancara langsung dari setiap KK miskin penerima bantuan PPG yang terpilih sebagai sampel dengan menggunakan daftar pertanyaan yang telah dipersiapkan.
3.4    Model Analisis
Analisis yang digunakan dalam penelitian ini dengan menggunakan formula yang sederhana seperti telah dirumuskan dalam manual Evaluasi Program Penanggulangan Kemiskinan yang dibuat oleh ESCAP (Economic and Social Commision for Asia and Facific) yaitu peningkatan pendapatan (AI), Coverage of Target Group (TAR), Poverty Reduction (PR).
Untuk menilai keberhasilan program penanggulangan kemiskinan, peningkatan pendapatan merupakan indikator penting untuk menilainya. Secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut  (lihat Santoso dkk, 2003: 150 -156):

             Yt – (Yo + (Yo x Iht))  
AI = 
                ( Yo + (Yo x Iht))
Keterangan :
AI        : Peningkatan pendapatan (Income Indicator)
Yt        : Pendapatan tahun sekarang
Yo       : Pendapatan tahun dasar
Iht       : Indeks harga konsumen tahun sekarang
            Pengukuran terhadap nilai Coverage of Target Group (TAR) dengan menggunakan model :
            TAR = IPGK - IP>GK
Keterangan :
TAR  : Jumlah penduduk miskin yang pendapatannya dibawah batas garis          kemiskinan.
IPGK      :  Jumlah penduduk miskin keseluruhan
IP>GK    :  Jumlah penduduk miskin yang pendapatannya diatas garis kemiskinan
                  Untuk mengukur pengurangan tingkat kemiskinan (Poverty Reduction Indicator (PR)) digunakan alat atau model :
PR  =  %P    (%Pt / %Po)
Keterangan :
PR       : Pengurangan penduduk miskin (Poverty Reduction Indicator)
%P       : Persentase penduduk miskin keseluruhan
%Pt     : Persentase penduduk miskin tahun sekarang yang pendapatannya dibawah garis kemiskinan
%Po     : Persentase penduduk miskin tahun dasar yang pendapatannya dibawah garis kemiskinan

Untuk menganalisis kesenjangan kemiskinan yaitu rata-rata pendapatan penduduk miskin terhadap batas kemiskinan, dan juga tingkat keparahan kemiskinan yang terjadi di Kabupaten Aceh Utara, model yang digunakan adalah sebagai berikut (World Bank, 2002 : 69 –72) :
Indeks Kesenjangan Kemiskinan :
      
Indeks Keparahan Kemiskinan :                  
        2
Keterangan :

P1     : Indeks Kesenjangan Kemiskinan
P2     : Indeks Keparahan Kemiskinan
Z       : Batas gar kemiskinan
Yp    : Pendapatan rata-rata keluarga miskin
n       : Jumlah keluarga miskin

Untuk mengetahui besarnya pengaruh pendapatan keluarga miskin sebagai variabel dependen (Y) akibat variabel independen berupa bantuan Program PPG, jam kerja dan bantuan langsung tunai (PPG, JK, D1) dihitung dengan model regresi linear berganda, yaitu sebagai berikut :
            Y = f (PPG, JK, D1)
Y = α + β1 ln PPG + β2 ln JK + β3 D1 + ε
Dimana :
            Y         : Pendapatan KK miskin (Rp.)
            PPG     : Jumlah dana bantuan PPG (Rp.)
            JK        : Jumlah jam kerja (jam) 
            D1       : Variabel dummy BLT, (menerima bantuan BLT = 1 ; tidak menerima bantuan BLT = 0)
            α          : Konstanta
            β1, β2, β3 : Koefisien regresi
             Îµ          : Faktor pengganggu (Error term).

3.5    Definisi Operasional Variabel
            Adapun variabel yang digunakan sebagai bahan analisis dalam penelitian ini diartikan sebagai berikut :
1.         PPG adalah suatu program penanggulangan kemiskinan melalui pembangunan gampong secara aspiratif dan partisipatif untuk peningkatan pendapatan masyarakat desa terutama masyarakat miskin, dengan sumber dana dari APBD Kabupaten Aceh Utara.
2.         Jam Kerja (JK) merupakan jumlah jam kerja kelurga miskin.
3.         Bantuan Langsung Tunai (D1) adalah bantuan langsung yang diberikan kepada keluarga miskin, sumber dana berasal dari kompensasi harga bahan bakar minyak, dan tidak semua keluarga miskin menerima BLT.   
4.         Income Indicator (AI) adalah mengukur pendapatan rumah tangga peserta program sebelum dan setelah mendapat bantuan.
5.         Pendapatan rumah tangga adalah besarnya penghasilan yang diterima oleh rumah tangga miskin.
6.         Indeks harga adalah faktor perubahan harga.
7.         Penduduk miskin adalah penduduk yang hidup dibawah garis kemiskinan atau penduduk yang memenuhi kriteria miskin yang telah ditetapkan oleh BPS untuk tahun 2006 garis kemiskinan untuk Kabupaten Aceh Utara Rp.167.291,- per kapita per bulan.

4.     HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1    Deskripsi Daerah Penelitian

4.1.1        Letak Geografis dan Luas Wilayah

Kabupaten Aceh Utara merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam yang terletak pada 96.52.000 – 97.31.000  Bujur Timur dan 04.46.000  -  05.00.400   Lintang Utara dengan luas wilayahnya sekitar 3.296,86 km2 serta berbatasan dengan Kota Lhokseumawe dan Selat Malaka di sebelah utara, sebelah selatan dengan Kabupaten Aceh Tengah, sebelah timur dengan Kabupaten Aceh Timur dan sebelah barat dengan Kabupaten Bireuen. Secara administrasi Kabupaten Aceh Utara terbagi dalam 22 kecamatan, 56 kemukiman, 850 desa/gampong dan 2 kelurahan.
4.1.2        Keadaan Penduduk
Jumlah penduduk Kabupaten Aceh Utara pada tahun 2009 adalah 493.599 jiwa, yang terdiri dari laki-laki 241.887 jiwa dan perempuan 251.712 jiwa, dengan jumlah rumah tangga sebanyak 108.220 KK dan rata-rata jumlah anggota keluarga setiap rumah tangga adalah 5 jiwa, serta kepadatan penduduk rata-rata 150 jiwa/km2. Laju pertumbuhan penduduk di Kabupaten Aceh Utara dari tahun 1993 – 2005 rata-rata 1,07 %.
4.1.3        Karakteristik Kepala Keluarga Sampel
Karakteristik kepala keluarga yang menjadi sampel dalam penelitian ini antara lain jenis kelamin kepala keluarga, umur, pekerjaan, tingkat pendidikan formal, jumlah anggota keluarga. Rincian kepala keluarga menurut jenis kelamin bahwa terdapat sebanyak 29 KK atau 33,72% adalah perempuan dan laki-laki sebanyak 57 KK atau 66,28% dari total KK sampel.
Kepala keluarga dengan batasan umur terbanyak adalah pada umur 45 – 49 tahun yaitu sebanyak 22 KK atau 25,58%, dan jumlah kepala keluarga pada usia produktif yaitu pada umur 25 – 54 tahun adalah sebanyak 71 KK atau 82,55%. Sedangkan kepala keluarga yang tidak produktif yaitu 55 tahun keatas adalah sebanyak 15 KK atau 17,45%.
            Pekerjaan utama kepala kelurga rata-rata sebagai petani yaitu sebanyak 33 KK atau 38,37%, kemudian pedagang sebanyak 23 KK atau 26,74%, nelayan sebanyak 5 KK atau 5,81%, penjahit sebanyak 3 KK atau 3,49%, pembuat kue sebanyak 7 KK atau 8,14%, penjual ikan sebanyak 2 KK atau 2,33%, pengrajin tikar sebanyak 3 KK atau 3,49%, penjual kue sebanyak 5 KK atau 5,81%. Sedangkan pekerjaan kepala keluarga sebagai penjual nasi, tukang becak dan tukang bengkel sepeda masing-masing hanya sebanyak 1 KK atau 1,16%.
            Komposisi pendidikan kepala keluarga sampel yang terbesar adalah berpendidikan SD yaitu sebanyak 50 KK atau 58,14%, berpendidikan SMP sebanyak 20 KK atau 23,26%, dan berpendidikan SMA sebanyak 15 KK atau 17,44%. Sedangkan untuk kepala keluarga yang berpendidikan sarjana adalah 1 KK atau 1,16%.
            Jumlah anggota keluarga dari kepala kelurga sampel dengan jumlah anggota keluarga terkecil adalah 2 orang dan terbesar 10 orang. Sedangkan jumlah anggota kelurga 5 orang merupakan komposisi terbanyak yaitu 30 KK atau 34,88%.
Karakterisitik kepala keluarga yang menerima bantuan tidak seluruhnya adalah keluarga miskin, karena hasil penelitian lapangan terdapat keluarga tidak miskin mendapat bantuan modal usaha misalnya para pedagang.  Jumlah bantuan modal usaha dari PPG yang diterima oleh masyarakat adalah bervariasi sesuai dengan usaha yang sedang atau akan dilaksanakan. Besarnya bantuan yang diterima responden adalah Rp.180.000,- sampai Rp.3.500.000,-.. Jumlah keluarga yang menerima bantuan PPG sebesar Rp.1.000.000,- ke bawah adalah sebanyak 58 KK atau 67,44%.
Pendapatan responden sebelum menerima bantuan PPG adalah Rp.200.000,- sampai Rp.1.000.000,-, setelah menerima bantuan PPG pendapatan responden adalah Rp.400.000,- sampai Rp.1.500.000,-.

4.2          Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan

Perubahan yang terjadi pada variabel dependen (Y = Pendapatan) akibat perubahan pada variabel independen (PPG, JK, D1), dari hasil analisis regresi dengan pendekatan kuadrat terkecil didapat persamaan regresi linier berganda sebagai berikut :

Ln Y = 11,340 + 0,0658 ln PPG + 0,5485 ln JK + 0,3363 D1

4.2.1        Pengaruh Bantuan PPGTerhadap Pendapatan
Hasil estimasi model yang digunakan bahwa koefisien parameternya memiliki hubungan positif, hal ini berarti peningkatan jumlah bantuan PPG akan meningkatkan pendapatan masyarakat, dengan koefisien regresi bantuan PPG sebesar 0,0658 menggambarkan bahwa pendapatan akan meningkat sebesar 6,58% jika jumlah bantuan PPG meningkat 100%. Peningkatan pendapatan masyarakat masih relatif kecil dibandingkan dengan jumlah bantuan PPG yang diberikan.
4.2.2    Pengaruh Jam Kerja Terhadap Pendapatan
            Hasil estimasi model yang digunakan bahwa koefisien parameternya memiliki hubungan positif, hal ini berarti penambahan jam kerja akan meningkatkan pendapatan. Koefisien regresi jam kerja sebesar 0,5485 menggambarkan bahwa akan terjadi peningkatan pendapatan sebesar 54,85% jika jumlah jam kerja ditingkatkan sebesar 100%.
4.2.3    Pengaruh Bantuan Langsung Tunai Terhadap Pendapatan
            Berdasarkan hasil estimasi model yang digunakan bahwa koefisien parameter dari D1 memiliki hubungan positif, hal ini berarti pemberian bantuan langsung tunai secara langsung meningkatkan pendapatan masyarakat. Koefisien regresi D1 sebesar 0,3363 menggambarkan bahwa masyarakat yang mendapat bantuan langsung tunai pendapatannya akan meningkat sebesar 33,63%.

4.3      Indikator Pendapatan dan Pengurangan Penduduk Miskin
Penilaian keberhasilan suatu program penanggulangan kemiskinan, maka peningkatan pendapatan merupakan indikator penting untuk menilainya. Untuk mengetahui persentase perubahan pendapatan dapat dilihat pada Tabel 4.1.
Tabel 4.1
Indikator Pendapatan (Peningkatan Pendapatan)

No.
Uraian

1.
Batas garis kemiskinan Kab. Aceh Utara tahun 2003
Rp.118.897
2.
Batas garis kemiskinan Kab. Aceh Utara tahun 2006
Rp.167.291
3.
Indeks Harga Konsumen (Iht)
5,139
4.
Income Indicator (AI)
0,0647
5.
Poverty Reduction (PR)
0,0339
6.
TAR (Target Sasaran)
0,6628
7.
Poverty Gap Index (P1)
0,1574
8.
Poverty Severity Index (P2)
0,0455
  Sumber : Hasil Penelitian 2007(diolah).
            Dari Tabel 4.1 di atas dapat dilihat bahwa program PPG melalui bidang ekonomi produktif (bantuan modal usaha) menghasilkan Indikator Pendapatan (AI) sebesar 0,0647 ini berarti bahwa program tersebut dapat menaikkan pendapatan kepala kelurga penerima bantuan sebesar 6,47% pada tingkat kenaikan harga sebesar 5,139.  Sedangkan target sasaran dari program adalah sebesar 0,6628 atau sebesar 66,28% dari penerima bantuan adalah keluarga miskin sedangkan sisanya sebesar 33,72% adalah bukan dari kelurga miskin, sehingga bantuan PPG dapat disimpulkan relatif kurang tepat sasaran untuk keluarga miskin.
            Berdasarkan Tabel 4.1 didapat bahwa Poverty Reduction (PR) adalah sebesar 0,0339, hal ini berarti terjadi pengurangan jumlah keluarga miskin penerima bantuan PPG sebesar 3,39% di Kabupaten Aceh Utara.

5. KESIMPULAN DAN SARAN
5.1  Kesimpulan
1.      Program PPG yang dilaksanakan di Kabupaten Aceh Utara tidak seluruhnya ditujukan untuk keluarga miskin, karena keluarga miskin yang mendapat bantuan PPG hanya sebanyak 67,28% sedangkan sisanya sebesar 33,72% penerima PPG bukan keluarga miskin. 
2.      Berdasarkan nilai Income Indicator yang dihasilkan sebesar 0,0647 atau menunjukkan bahwa pendapatan penerima bantuan PPG meningkat sebesar 6,47%. Sedangkan dengan menggunakan regresi linear berganda bantuan PPG terbukti secara parsial dapat meningkatkan pendapatan masyarakat penerima bantuan. Hal ini terbukti bahwa bantuan PPG dapat meningkatkan pendapatan keluarga miskin dan dapat mengurangi kemiskinan sebesar 3,39%.
3.      Pendapatan keluarga miskin akan meningkat sebesar 54,85% jika adanya peningkatan jumlah jam kerja, dan akan meningkat sebesar 33,63% dengan adanya peningkatan jumlah bantuan langsung tunai yang diterima keluarga miskin.
4.      Pendapatan rata-rata penduduk miskin di Kabupaten Aceh Utara berada 15,47% di bawah batas kemiskinan, dengan kesenjangan distribusi pendapatan diantara penduduk miskin sebesar 4,55%.
5.      Peningkatan pendapatan akibat bantuan PPG sebesar 6,47% belum mencukupi untuk dapat meningkatkan pendapatan keluarga miskin di atas batas kemiskinan, karena rata-rata pendapatan penduduk miskin 15,47% di bawah batas kemiskinan.
Saran
Berdasarkan kesimpulan diatas, maka dapat disarankan kebijakan yang perlu dilakukan sebagai berikut:
1.        Pelaksanaan program PPG hendaknya dapat dilaksanakan secara berkelanjutan karena berdampak positif terhadap peningkatan pendapatan masyarakat dan dapat mengurangi kemiskinan.
2.        Kebijakan penerapan program atau kegiatan dalam rangka penanggulangan kemiskinan dengan menggunakan sumber dana APBD Kabupaten melalui pengadopsian pola pelaksanaannya dari suatu program nasional yang dianggap berhasil, sebaiknya Pemerintah Kabupaten Aceh Utara perlu melakukan evaluasi terlebih dahulu terhadap keberhasilan program tersebut di daerahnya, karena tidak semua program yang secara nasional diangap berhasil tetapi di daerah tertentu program tersebut tidak sesuai.
3.        Pemerintah Kabupaten Aceh Utara hendaknya memperuntukkan bantuan PPG hanya kepada keluarga miskin karena program PPG dapat meningkatkan pendapatan, tetapi masih banyak penerima bantuan bukan dari keluarga miskin. Sehingga tujuan untuk mengurangi kemiskinan tidak seperti yang diharapkan, pengurangan kemiskinan yang diharap tetapi peningkatan kesenjangan pendapatan yang didapat.
4.        Pemberian bantuan PPG hendaknya lebih diutamakan untuk gampong-gampong yang terbelakang dan terisolir, demi pemerataan pertumbuhan ekonomi dan menjaga kesenjangan antar gampong.
5.        Perlu dilakukan sosialisasi terhadap program secara intensif dan kajian terhadap identifikasi kebutuhan usaha masyarakat benar-benar proporsional agar tujuan program benar-benar tercapai dan dipahami oleh masyarakat.

DAFTAR PUSTAKA


Adisasmita, Rahardjo, (2005), Dasar-Dasar Ekonomi Wilayah, Graha Ilmu, Yogyakarta.
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, (2002), Pedoman Umum Program Pembangunan Gampong Kabupaten Aceh Utara Tahun Anggaran 2002,  Bappeda Kabupaten Aceh Utara.
Badan Pusat Statistik, (2003), Penduduk Fakir Miskin 2004, BPS, Jakarta.

Badan Pusat Statistik dan Badan Perencanaan Pembangunan Daerah, (2005), Produk Domestik Regional Bruto Kabupaten Aceh Utara, BPS Kabupaten Aceh Utara.
Bappenas, (1994), Kaji Tindak Program IDT 1994 – 1997, Aditya Media, Yogyakarta.
Basri, Faisal, (1995), Perekonomian Indonesia Menjelang Abad XXI Distorsi Peluang dan Kendala, Erlangga, Jakarta.
Diliana, Fransiska Bonita, (2005), Perbandingan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Rumah Tangga di Kabupaten Klaten dan Kabupaten Magelang Tahun 2003, STIS, Jakarta.

Dillon HS, (2003), Pemberdayaan Masyarakat Miskin di Era Otonomi Daerah. Jurnal Ekonomi Rakyat, Juni 2003, 5 – 23.

Hasibuan, Nurimansyah, (2004), Kemiskinan Struktural di Indonesia Menembus ke Lapisan Bawah, Jurnal Ekonomi Rakyat, Volume VII, 65 – 97.

Insukindro, (1991), Kemiskinan dan Distribusi Pedapatan di Daerah Istimewa Yogyakarta 1984 –1987, Fakultas Ekonomi Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Kusnaedi, (1995), Membangun Desa, Penebar Swadaya, Jakarta.
Mubyarto, (1994), Keswadayaan Masyarakat Desa Tertinggal, Adtya Media, Yogyakarta.
Mubyarto, (1999), Reformasi Sistem Ekonomi, Adtya Media, Yogyakarta.
Mubyarto, (2000), Kisah-kisah IDT dan Program Menghapus Kemiskinan di Sulawesi, Yayasan Agro Ekonomi.

Nazir, Moh., (2003), Metode Penelitian, Ghalia Indonesia, Jakarta.
Rachbini, J. Didik, dkk., (1995), Negara Dan Kemiskinan di Daerah, Pustaka Sinar Harapan, Jakarta.

Masbar, Raja, (2002), Batas Garis Kemiskinan : Kasus Kota Banda Aceh, Jurnal Ekonomi dan Bisnis, No. 1. Vol. 2. Agustus 2002, 271 – 284.

Todaro, (2000),  Pembangunan Ekonomi di Dunia Ketiga, Erlangga, Jakarta.
World Bank Institute, (2002), Dasar-dasar Analisis Kemiskinan, Institute Bank Dunia, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar